sukses

 

1.      Bagaimana kebudayaan dengan K Kapital yang tinggi dan yang baik dalam tradisi sastra.?

Menurut William (1981, 1983), kata budaya berawal sebagai kata benda dari proses  yang berhubungan dengan pertumbuhan hasil panen, yakni pengolahan. Sesudah itu, ide kultivasi diperluas melalui pikiran manusia atau spirit yang melahirkan ide tentang orang berlatih dan terpelajar.

 

2.      Bagaimana identitas budaya membedakan suatu bangsa atau kelompok masyarakat dengan kelompok lainnya.?

Alo liliweri, makna budaya dalam komunikasi antarbudaya, hal. 72

Setiap kelompok masyarakat atau bangsa pasti memiliki budaya sendiri yang berbeda dengan bangsa lainnya. Dalam hal ini, Indonesia yang memiliki berbagai macam suku bangsa juga memiliki berbagai macam budaya yang berbeda-beda. Budaya yang dimiliki oleh masing-masing kelompok tersebut tentunya memiliki ciri atau keunikan tersendiri dibandingkan dengan kelompok-kelompok masyarakat lainnya. Dan hal tersebutlah yang membedakan budaya antar suku atau kelompok masyarakat di Indonesia.

 

3.      Bagaimana cara mengetahui ruang lingkup konseling dan budaya

secara etimologis konseling meruapakan alih bahasa dari bahasa inggris yaitu, counseling yang meruapakan bentuk infinitive atau bentuk masdar dari kata kerja to counsel yang berarti, memberikan nasihat atau anjuran kepada orang lain secara face to face atau kontak langsung.  Jadi istilah konseling secara etimologis berarti, 

Dalam bukunya yang berjudul pengantar bimbingan dan Konseling, Abror Sodiq menulis bahwa konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami masalah (disebut klien) dalam upaya mengatasi problem kehidupannya secara  face to face (berhadapan muka satu sama lain) atau kontak langsung dengan wawancara sesuai dengan keadaan individu yang dihadapinya sehingga tercapai kesejahteraan hidupnya. Kata budaya sering dikaitkan dengan seni, music, tradisi-ritual, ataupun peninggalan-peninggalan masa lalu. Sebagai contoh; music sunda khas budaya sunda, tarian dayak didentikkan tarian dayak, perambanan adalah peninggalan jawa-hindu. Bahkan dalam kamus oxford budaya lebih dilihat sebagai seni dan semua hasil prestasiintelektual manusia yang dilakukan secara kolektif. Sementara dalam konsep kuntjaraningrat (1988) kebudayaan diartikan sebagai wujudnya, yaitu mencakup keseluruhan dari:  gagasan kelakuan dan hasil-hasil kelakuan. Dengan definisi ini penulis dapat menyimpulkan bahwa budaya adalah hasil karya, cipta karsa manusia.  Segala sesuatu yang ada dalam pikiran manusia yang dialkukan dan yang dihasilkan oleh manusia adalah kebudayaan, budaya sebagai konstruk kata benda.

 

4.      Apa Kaitan Psikologi Lintas Budaya dengan Kognisi.?

Kognisi adalah istilah umum yang mencakup seluruh proses mental yang mengubah masukan-masukan dari indera menjadi pengetahuan (Matsumoto, 2008). Proses dasar kognisi ialah pemberian kategori pada setiap benda atau obyek atas dasar persamaan dan perbedaan karakternya. Proses-proses mental dari kognisi mencakup persepsi, pemikiran rasional, dan seterusnya.Ada beberapa aspek kognisi, yaitu kategorisasi (pengelompokkan), memori (ingatan) dan pemecahan masalah (problem solving).

5.      Apa Perbedaan Makna Emosi dalam Prilaku Lintas Budaya?

Menurut psikolog Amerika, emosi mengandung makna yang sangat kental, barangkali psikologi Amerika memandang perasaan batin yang subjektif sebagai karakteristik utama yang mendefinisikan emosi. Namun demikian dalam budaya lain emosi memiliki peran yang berbeda. Misalnya banyak budaya yang menganggap emosi sebagai pernyataan-pernyataan tentang hubungan antar orang dan lingkungannya, yang mencakup baik benda-benda maupun hubungan sosial dengan orang lain.

a.       Penelitian Psikologi Lintas Budaya Tentang Emosi

Ada beberapa perbedaan penting antara penelitian psikologi lintas budaya tentang emosi dengan penelitian antropologis dan etnografis. Satu perbedaan pentingnya adalah bahwa psikolog biasanya mendefinisikan terlebih dahulu apa yang tercakup sebagai emosi dan aspek mana dari definisi tersebut yang akan dikaji.

Perbedaan kultural dalam konsep dan definisi emosi, menjadi hambatan bagi model penelitian ini.Penelitian psikologis tentang emosi tetap mewakili suatu model penelitian yang penting tentang perbedaan kultural dan emosi. Meski begitu mereka menegaskan bagaimana budaya bisa membentuk emosi dan demikian meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengaruh-pengaruh sosio-kultural. Studi ini juga penting karena mereka menunjukkan bahwa perbedaan kultural emosi tetap ada, bahkan ketika aspek emosi yang diteliti didefinisikan oleh pandangan barat mainstream dalam emosi.

a.       Ekspresi Emosi

Penelitian lintas budaya tentang ekspresi emosi pada umumnya terfokus pada ekspresi wajah.Ekspesi wajah dari emosi dari emosi adalah aspek ekspresi emosi yang paling banyak dipelajari, dan penelitian lintas budaya mengenai ekspresi wajah inilah yang menjadi pendorong utama studi emosi di Psikologi Amerika.Ekman dan Izard mendapatkan bukti pertama yang sistematis dan konklusif tentang keuniversalan ekspresi marah, jijik, takut, senang, sedih, dan terkejut.

Keuniversalan ini berarti bahwa konfigurasi mimik muka masing-masing emosi tersebut secara biologis bersifat bawaan atau inate. Namun temuan ini tidak cocok dengan apa yang secara intuitif kita rasakan tentang adanya perbedaan kultural dalam ekspresi emosi. Masing-masing kebudayaan memiliki perangkat aturan sendiri yang mengatur cara emosi universal tersebut diekspresikan, emosi tersebut tergantung pada situasi sosial. Ini biasa kita sebut sebagai aturan pengungkapan kultural (cultural display role).

b.      Persepsi Emosi

Budaya juga mempengaruhi pelabelan emosi. Meski biasanya ada kesepakatan antar budaya dalam hal emosi apa yang ditampilkan oleh suatu ekspresi wajah, namun tetap ada variasi dalam tingkat kesepakatan tersebut. Jenis perbedaan kultural dalam pelabelan emosi inilah yang ditemukan dalam penelitian yang lebih baru.Sebenarnya, perbedaan kultural dalam tingkat kesepakatan masing-masing budaya dalam melabeli emosi juga tampak dalam data dari penelitian ulang Ekman dan Izard tentang sifat universal emosi.Hanya saja, ketika itu perbedaan kultural ini tidak diuji karena tujuan penelitian tersebut adalah untuk menemukan kesamaan bukan perbedaan kultural.

c.       Pengalaman Emosi

Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa program penelitian mulai mempelajari bagaimana orang-orang dari berbagai budaya mengalami emosi secara berbeda-beda.Penelitian-penelitian tersebut melibatkan ribuan responden dari lebih dari 30 budaya dari seluruh dunia yang mengisi kuisioner tentang emosi yang mereka alami di kehidupan sehari-hari mereka. Secara kolektif, temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa budaya memiliki pengaruh yang besar pada bagaimana orang mengalami emosi.

6.      Bagaimana budaya Saling mempengaruhi satu sama lain..?

Budaya dipengaruhi oleh komunikasi dan sebaliknya komunikasi juga terpengaruh oleh budaya. Lihat saja bagaimana kita dapat dengan mudah menebak daerah asal seseorang dari caranya berkomunikasi. Misalnya logat yang digunakan dimana logat orang minang dapat dengan mudah dibedakan dengan logat orang batak. Meskipun mereka menggunakan bahasa Indonesia baku sekalipun kita dapat dengan mudah membedakannya.Bagaimanakah kaitan antara budaya dengan kepribadian dalam proses pewarisan budaya

7.      Bagaimanakah kaitan antara budaya dengan kepribadian dalam tingkah laku setiap individu..?

Masalah konseptual dan metodologi lainnya terletak pada konsep budaya; beberapa di antaranya telah kita jumpai. Jika seorang analisis membuat suatu model gabungan dan model ideal budaya masyarakat, berdasarkan apa yang dilakukan dan apa yang dikatakan oleh setiap orang,

Keesing, Roger M, Gunawan, Samuel.1981:Antropologi Budaya.Jakarta.Erlangga

8.      Bagaimana budaya mempengaruhi perilaku manusia dalam berinteraksi dengan manusia lainnya..?

Kebiasaan – kebiasaan manusia dalam berinteraksi dengan orang lain telah merubah perilaku manusia ketika bersosialisasi. Saat ini kita telah hidup di jaman yang serba canggih. Semua aspek di kehidupan ini telah disentuh oleh tehnologi, salah satunya adalah aspek komunikasi dengan hand phone sebagai produknya. Hal ini membuat manusia terbisa menggunakan hand phone untuk berkomunikasi, sehingga terbentuklah budaya media sosial. Manusia kini lebih memilih  bersosialisai melalui media – media sosial seperti facebook, twitter, My Space, dan lain – lain. Akibatnya, mereka menjadi pasif terhadap lingkungan sekitarnya.

9.      Apakah hambatan Komunikasi Lintas Budaya dan Konseling Antar Budaya..?

Chaney dan Martin (2004 : 11) dalam bukunya Intercultural Business Communication, menyatakan bahwa yang dimaksud dengan hambatan komunikasi atau communication barrier adalah segala sesuatu yang menjadi penghalang untuk terjadinya komunikasi yang efektif.

Perbedaan budaya sendiri merupakan salah satu faktor penghambat dalam komunikasi antar budaya, karenanya hambatan – hambatan komunikasi tersebut juga sering disebut sebagai hambatan komunikasi antar budaya, sebagai hambatan dalam proses komunikasi yang terjadi karena adanya perbedaan budaya antara komunikator dan komunikan.

Adapun faktor hambatan komunikasi antar budaya yang sering terjadi antara lain: fisik, budaya, persepsi, motivasi, pengalaman, emosi, bahasa (verbal), nonverbal, kompetisi.

  • Fisik – Hambatan komunikasi yang berasal dari waktu, lingkungan, kebutuhan diri, dan media.
  • Budaya – Hambatan komunikasi yang berasal dari etnis, agama, dan sosial yang bebeda antara budaya yang satu dengan budaya yang lainnya.
  • Persepsi – Hambatan komunikasi yang timbul karena perbedaan persepsi yang dimiliki oleh individu mengenai sesuatu. Perbedaan persepsi menyebabkan perbedan dalam mengartikan atau memaknakan sesuatu. (Baca juga: Komunikasi yang Efektif)
  • Motivasi – Hambatan komunikasi yang berkaitan dengan tingkat motivasi penerima pesan. Rendahnya tingkat motivasi penerima pesan mengakibatkan komunikasi menjadi terhambat.
  • Pengalaman – Hambatan komunikasi yang disebabkan oleh pengalaman masa lalu yang dimiliki individu. Perbedaan pengalaman yang dimiliki oleh masing-masing individu dapat menyebabkan perbedaan dalam konsep serta persepsi terhadap sesuatu. (Baca juga: Etika Komunikasi)
  • Emosi – Hambatan komunikasi yang berkaitan dengan emosi atau perasaan pribadi dari pendengar. Apabila emosi pendengar sedang buruk maka hambatan komunikasi yang terjadi akan semakin besar dan sulit untuk dilalui. (Baca juga: Gender dan Komunikasi)
  • Bahasa – Hambatan komunikasi yang terjadi ketika pengirim pesan (sender) dan penerima pesan (receiver) menggunakan bahasa atau kata-kata yang tidak dimengerti oleh penerima pesan sehingga menimbulkan ketidaksamaan makna. (Baca juga: Psikologi Komunikasi)
  • Nonverbal – Hambatan komunikasi yang berupa isyarat atau gesture. (Prinsip – prinsip Komunikasi)
  • Kompetisi – Hambatan komunikasi yang timbul ketika penerima pesan sedang melakukan kegiatan lain di saat menerima pesan. (Komunikasi Persuasif)

10.  Bagaimana timbulnya Perbedaan konseling Multibudaya dan lintas budaya..?

Konseling berwawasan lintas-budaya merupakan layanan bantuan kepada konseli dengan memperhatikan latar budayanya. Hubungan konselor-konseli pada dasarnya merupakan hubungan dua orang yang memiliki keberbedaan budaya. Perhatian terhadap latar budaya konseli penting untuk dilakukan mengingat faktor budaya memiliki kontribusi terhadap pelaksanaan konseling. Latar budaya yang mempribadi dalam diri konseli merefleksikan cara pandang konseli terhadap masalah dan tingkah laku aktual dalammenghadapi masalah. Pelaksanaan onseling dipangaruhi oleh beragam entitas. Salah satu entitas di maksud adalah faktor budaya. Faktor budaya tersebut imergedalam hubungan konselor-klien. Keberbedaan dan keberagaman budaya yang menjadi latar pribadi konselor dan konseli cenderung dapat menghambat pelaksanaan konseling. Aktualisasi dari budaya seperti bahasa, nilai, stereotip, kelas sosial dan semisalnya dalam kondisi tertentu dapat menjadi sumber penghambat proses pencapaian tujuan konseling. Disamping itu, model pendekatan konseling yang dipergunakan konselor untuk membantu mengentaskan masalah konseli, yang notabene merupakan salah satu penciri profesionalitas profesi konseling juga merupakan produk suatu budaya tertentu yang karenanya dalam penerapannya juga belum tentu sesuai dengan budaya konseli

11.  Bagaimana Model-model indigenous (kearifan lokal)
Healing dan implikasi pada konseling di Indonesia saat ini..?

Praksis konseling di Indonesia masih sangat tergantung pada teori konseling barat beserta pengembangannya. Padahal Indonesia adalah sebuah negara dengan tingkat keberagaman yang tinggi dari sudut pandang budaya. Konseling saat ini tidak hanya persoalan konselor konseli, tetapi, dalam perspektif budaya konseling juga mempersoalkan di mana mereka berada (Rangka, 2016). Dengan demikian bangsa ini membutuhkan pengembangan teknik/pendekatan/teori konseling yang dikembangkan dari sistim budaya setempat. Tulisan ini menemukan limakendala dalam mengembangkan teknik/pendekatan/teori konseling indigenous. Tetapi kendala paling utama adalah kurangnya hasrat eksplorasi keilmuan. Melihat kondisi semacam itu, diperlukankampanye dan penyadaran terus menerus, bahwa konseling indigenous adalah sebuah keharusan di sebuah negara dengan kemajemukan tinggi semacam Indonesia ini.

12.  Bagaimana Keterampilan dan Pengetahuan Konselor dalam mempengaruhi Konseling Lintas Budaya..?

Khusus dalam menghadapi klien yang berbeda budaya, konselor harus memahami masalah sistem nilai. M. Holaday, M.M. Leach dan Davidson (1994) mengemukakan bahwa konselor professional hendaknya selalu meingkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam melaksanakan konseling lintas budaya, yang meliputi hal-hal sebagai berikut.

a) Pengetahuan dan informasi yang spesifik tentang kelompok yang dihadapi

b) Pemahaman mengenai cara kerja sistem sosio-politik di negara tempat kelompok berada, berkaitan dengan perlakukan terhadap kelompok tersebut.

c) Pengetahuan dan pemahaman yang jelas dan eksplisit tentang karakteristik umum konseling dan terapi.

d) Memiliki keterampilan verbal maupun non-verbal

e) Mampu menyampaikan pesan secara verbal maupun non-verbal

f) Memiliki keterampilan dalam memberikan intervensi demi kepentingan klien

g) Menyadari batas-batas kemampuan dalam memberikan bantuan dan dapat mengantisipasi pengaruhnya pada klien yang berbeda.

 

2 Sikap Konselor

Sikap konselor dalam melaksanakan hubungan konseling akan menimbulkan perasaan-perasaan tertentu pada diri klien, dan akan menentukan kualitas dan keefektifan proses konseling.

13.  Bagaimana Multibudaya Sebagai Proses Pemberdayaan sangat berpengaruh untuk setiap orang..?

Michael D’Andrea, Ed.D. (2017)

14.  Apakah Perbedaan spiritualitas dan Religiusitas..?

Memahami konsep religiusitas dalam konteks bimbingan dan konseling, psikologi, dan pendidikan pada umumnya dapat ditinjau dari dua sudut pandang, pertama kelompok yang memandang religiusitas sesuatu yang negatif, seperti pendapat Freud (Tsang & McCullough, 2003) yang menyebut bahwa religiusitas sebagai dalam pandangan Freud religi dianggap sebagai perilaku impulsif, selain itu dari pandangan negatif mengenai religi berpendapat bahwa religiusitas sebagai kelemahan mental dan keterbelakangan

15.  Bagaimana KONSELING LINTAS BUDAYA memicu konflik bagi kelompok budaya yang beragam..?

elah diidentifikasi pada awal tahun 1970 (DW Sue & Sue D., 1972).

1.    Konselor cenderung menuntut klien mereka untuk menunjukkan sikap keterbukaan diri. Kebanyakan teori membantu menempatkan premi yang tinggi pada kemampuan  ekspresi verbal, emosional, dan perilaku. Hal  ini adalah sebagai salah satu tujuan akhir dari konseling yang dilakukan.

2.    Konseling secara tradisional cenderung  mendorong klien untuk berbicara tentang aspek yang paling intim dari kehidupan mereka. Individu yang gagal atau menolak pengungkapan diri dapat dilihat sebagai seorang yang kaku, defensif, atau dangkal.

3.    Situasi konseling ini sering bersifat ambigu.  Dimana klien didorong untuk mendiskusikan masalah saat konselor mendengarkan dan merespon. Sementara situasi konseling terstruktur dan kekuatan klien menjadi peserta aktif utama. Dengan pola komunikasi umumnya dari klien dengan konselor.

16. mengapa strategi dan pendekatan konseling lintas budaya sangat penting..?

Dedi Supriadi (2001:6) mengajukan alternatif untuk keefektifan konseling, setelah mengemukakan definisi konseling lintas budaya. Konseling lintas budaya melibatkan konselor dan konseli yang berasal dari latar belakang budaya yang berbeda, dan karena itu proses konseling sangat rawan oleh terjadinya bias-bias budaya pada pihak konselor yang mengakibatkan konseling tidak berjalan efektif. Agar berjalan efektif, maka konselor dituntut untuk memiliki kepekaan budaya dan melepaskan diri dari bias-bias budaya, mengerti dan dapat mengapresiasi diversitas budaya, dan memiliki keterampilan-keterampilan yang responsif secara kultural. Dengan demikian, maka konseling dipandang sebagai “perjumpaan budaya” (cultural encounter) antara konselor dan klien.

17.Mengapa penerapan konseling lintas budaya di sekolah perlu diterapkan?

Ali, Mohammad, dan Mohammad Asrori,2006.Psikologi Remaja:Perkembangan Peserta Didik.Jakarta: Bumi Aksara.

 

 

Komentar

Posting Komentar